advertorial bisnis finansial hosting internet macos opini rekomendasi smartphone website

Pengalaman Saya Ketika Dikira Teroris

5 Apr 2021 - 11:03

Muda, berjenggot, celana cingkrang, ga pernah nyetel musik di rumah, istrinya bercadar, anaknya banyak, kontrak dan rajin ke masjid. Apa yang ada di benak kita kalau melihat orang seperti itu? Sebagian besar orang pasti mengira teroris. Begitulah kira-kira media membuat kesan tentang orang seperti itu.

Jenggot saya tidak lebat, mungkin karena saya ada keturunan cina dari ayah. Orang cina jenggotnya memang tidak lebat seperti orang arab kan ya. Saya belum lama belajar islam, sholat 5 waktu saja baru istiqomah beberapa tahun ini. Dulu? Saya ga peduli soal agama, sholat jum’at saja malas, baca quran ga bisa.

Istri saya bercadar juga tidak saya suruh, dia sendiri yang mau, katanya nyaman. Padahal dulu saat pertama ketemu, dia belum berhijab. Sekarang, di keluarganya dia sendiri yang paling aneh.

Kejadian ini terjadi di tahun 2018 ketika saya kontrak di Purwokerto. Kalau ingat cerita ini saya sering tersenyum sendiri.

Kebetulan yang Tidak Disengaja

Mungkin semua orang masih ingat di hari minggu, 13 Mei 2018 jam 9 pagi terjadi bom bunuh diri di Surabaya. Sehari sebelumnya, hari sabtu saya pamit ke pemilik kontrakan mau ke Surabaya. Tepat saat bom bunuh diri itu meledak, kebetulan saya memang sedang dalam perjalanan pulang naik kereta api ke Purwokerto.

Kemudian, apa yang terjadi?

Esok harinya, hari senin tiba-tiba pemilik kontrakan tersebut bilang mau merenovasi rumahnya menjadi homestay, jadi saya harus segera pindah. Padahal saya belum genap setahun kontrak disitu, saya jadi bingung karena cari kontrakan baru tidak mudah, apalagi saya punya 3 anak.

Beruntung, kami tidak langsung “diusir”, masih diberi waktu untuk cari kontrakan baru. Saya maklum kalau beliau khawatir, memang semua serba kebetulan.

Sabtu-berangkat-minggu-pagi-meledak-sorenya-pulang.

Pas banget kan?

Pak Anshori Ikut Tahsin

Musholla dekat kontrakan saya rutin mengadakan tahsin Al-Quran setiap hari senin. Pesertanya orang tua semua kecuali saya. Padahal banyak yang seumuran saya di daerah ini, tapi tidak ada yang ikut.

Pak Anshori, mantan polisi, biasa jadi imam di musholla ini. Beliau tidak pernah ikut tahsin, tapi hari senin ini berbeda, beliau hadir. Beliau duduk persis di sebelah saya. Setelah tahsin selesai, seperti biasa semua orang ngobrol.

Biasanya topik pembicaraan seputar bisnis passive income seperti kos dan kontrakan dan seputar penyakit hehe maklum orang tua semua. Kali ini topiknya berbeda, mereka membahas tentang “terduga teroris yang tinggal di daerah Karang Pucung”.

Saat itu saya cuma diam, mendengarkan dan memang selalu begitu. Apalah saya dibandingkan mereka semua? Mantan polisi, pensiunan pejabat, pengusaha. Mau ikut ngobrol juga percuma, ilmu dan pengalaman tidak sampai.

Jamaah masjid ini kebanyakan punya kos-kosan dan kontrakan, termasuk pak Sunaryo, pemilik kontrakan yang saya tempati. Pak Sunaryo ini bergelar Ir. begitu informasi yang saya baca di papan pengurus musholla, jelas bukan orang abal-abal seperti saya yang cuma lulusan SMP :D

Pak Anshori sepertinya sedang mengkonfirmasi apakah ada ciri-ciri orang tersebut di kos atau kontrakan mereka. Mereka semua menyangkal termasuk pak Sunaryo, mungkin karena beliau melihat tidak ada yang aneh dengan saya. Data KTP dan KK saya juga beliau pegang, mungkin sudah dicek ke Densus 88?

Saya menyimak pembicaraan dengan ekspresi polos, waktu itu ga sadar kalau yang sedang dibicarkan itu saya. Mungkin pak Anshori heran, ini orang kok santai aja ga gelagapan hahaha.

Happy Ending

Beberapa hari kemudian terjadi penangkapan di daerah Karang Pucung, kata warga sih teroris. Sejak saat itu sepertinya dugaan “teroris” kepada saya sudah clear. Saya bahkan dipersilakan untuk tinggal lagi, homestay tidak jadi dibangun, mantap.

Uniknya, sejak saat itu pak Anshori menyuruh saya menjadi imam dengan alasan bacaan saya yang paling bagus. Ternyata mereka juga tahu kalau adik saya hafizh quran, dengan alasan itu pula para jamaah sepakat saya jadi imam di musholla tersebut.

Kata mereka, “Mas jadi imam ya? Adiknya njenengan kan hafidz quran.” Aneh ya, yang hafidz quran adik saya, kenapa yang disuruh imam malah saya?? 0_o

Ternyata, sejak saat itu pula pak Anshori tidak ikut tahsin lagi, jangan tanya kenapa? :D