Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Pada Setuju Apa Nggak?

Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Pada Setuju Apa Nggak

Pacaran yang dulu tampaknya tabu, udah jadi hal yang lazim banget di jaman sekarang ini. Orang dewasa, remaja, bahkan bahkan anak kecil udah banyak yang pacaran sekarang. Hal ini kemudian menjadi isu sosial baru dimana pacaran dipandang negatif. Tampaknya dari situlah gerakan Indonesia Tanpa Pacaran bermula.

Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Pada Setuju Apa Nggak

Jadi pada 2015 silam, La Ode Munafar memulai gerakan Anti Pacaran ini lewat halaman faebook. Misi yang diusung Munafar ini cukup besar, yaitu menyelamatkan generasi muda dari pergaulan bebas. Dikutip dari wawancara Munafar dengan Vice Indonesia, Munafar menyampaikan alasan dirinya mendirikan gerakan ini.

“Ini adalah media penyadaran yang kemudian menjadi gerakan. Saya ingin menyelamatkan anak muda dari pergaulan bebas. Saya prihatin dengan kondisi ini. Bagaimanapun pacaran itu tidak baik dari segi manapun.” begitu ujar Munafar.

Melihat sepak terjang Munafar yang berani melawan arus ini, kita harus mengacungi jempol. Gimana enggak, pasalnya gerakan Indonesia tanpa pacaran ini udah memiliki sampai 500 ribu pengikut baik itu di media sosial Instagram maupun Facebook. Tandanya apa? Ya berarti banyak yang setuju banget sama gerakan yang diusung Munafar ini.

Pro dan Kontra Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Sosiolog: “Semua Tergantung Individunya”

Yang namanya memulai sebuah pergerakan, pasti lah selalu ada yang namanya pro dan kontra. Begitu juga dengan Indonesia Tanpa Pacaran ini, disamping dukungan, banyak juga protes terhadap gerakan ini. Namun ternyata Munafar gak habis akal, segala argumennya selalu didukung alibi yang cukup valid.

Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Pada Setuju Apa Nggak

Menurut Munafar, selain merugikan dari sisi agama, pacaran juga merugikan dari sisi ekonomi dan psikologi. Dalam survei kecil-kecilan pihaknya melibatkan 800 responden, Munafar mengklaim rata-rata remaja Indonesia menghabiskan Rp500 ribu per bulan demi pacaran. Waktu yang dihabiskan untuk pacaran minimal adalah 72 jam per bulan.

Bertentangan dengan argumen Munafar, Sosiolog dari Universitas Padjajaran, Yusar Muljadji justru punya pendapat lain. Menurutnya gerakan anti pacaran ini tak lantas bisa menyederhanakan persoalan yang ada di jaman millenial ini. Dan juga menurut Yusar, positif atau negatif nya pacaran, semua tergantung kepada individu nya.

Nah, menurut kalian gimana nih? Pada setuju gak sama gerakan Indonesia Tanpa Pacaran ini? Boleh tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar yah! Terimakasih!

Leave your vote

16 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Bagaimana Komentar Kamu?